Kamis, 10 November 2011

TIPS MENGATASI ATAP BOCOR

Musim hujan begini, kita pasti menghadapi ancaman kebocoran rumah. Tak peduli rumah mewah atau biasa-biasa, besar atau mungil, baru atau lama, air hujan selalu menghadirkan ancaman. Apalagi, hujan belakangan ini tak jarang disertai angin ditambah intensitas yang luar biasa hebat. Kalau sudah begitu, mau tak mau kita harus meluangkan waktu berperang mencegah atau mengatasi kebocoran.
Kebocoran yang menyebabkan air tumpah ke dalam rumah umumnya disebabkan oleh empat hal. Pertama, rancangan atau konstruksi yang salah. Pada konteks ini, yang umum terjadi adalah karena kemiringan atap tidak diperhatikan. Seharusnya, atap rumah memiliki sudut kemiringan minimal 30 derajat supaya air dapat mengalir dengan lancar. Kurang dari itu, pasti akan timbul masalah. Batas toleransi yang umumnya disarankan adalah antara 30-40 derajat karena lebih dari itupun masalah lain akan timbul, yakni genteng gampang melorot. Paling aman adalah di antaranya.
Penyebab kedua adalah kondisi alam. Perubahan panas dan dingin secara terus menerus akan membuat material penutup rumah menjadi aus atau berubah. Retak-retak, sekecil apapun, bila itu terjadi di atap rumah, pasti akan menyeret air memasuki celah-celahnya. Semakin dibiarkan, air yang merembes akan merajalela dan membuat retakan membesar. Kondisi alam lain yang menyebabkan kebocoran adalah tumpukan sampah dedaunan dan apa saja yang diterbangkan oleh angin dan hinggap di atap rumah. Akibat sampah-sampah alamiah ini, aliran air pun menjadi terganggu dan berpotensi menetes ke dalam rumah.
Lumut yang muncul di genteng juga bisa menyebabkan terjadinya rembesan air. Retak-retak rambut pada atap rumah akan segera memicu tumbuhnya lumut-lumut yang mengakibatkan aliran air tidak lancar. Nah, lumut ini biasanya menjadi problem pada rumah-rumah yang terletak di daerah lembab atau dingin.
Ketiga tentu saja pemilihan material yang digunakan. Menggunakan atap lembaran seperti asbes, semen fiber, ardex, seng antikarat, atau bitumen (aspal) berbeda pemasangannya dengan material seperti genteng tanah liat, genteng beton, keramik, atau kayu sirap. Asbes memberikan toleransi kemiringan hingga sedikit kurang dari 30 derajat karena rongga antarbidang yang terbentuk tidak sebanyak material genteng.
Material yang juga penting untuk diperhatikan adalah talang air dan nok (ridge) yang menutup sambungan antarbidang atap. Talang air sekarang umumnya menggunakan karet vinil atau seng. Bahan ini tentu saja tidak elastis sementara perubahan cuaca akan membuat pergeseran-pergeseran. Pada rumah zaman dulu, talang air ini dibuat menggunakan timah yang memiliki kemampuan menyesuaikan dengan kondisi cuaca. Artinya, pada saat dingin ia akan menyusut, pada saat panas akan memuai, tanpa kehilangan kemampuannya melindungi. Namun, sekarang bahan ini sudah sulit ditemukan karena dianggap terlampau mahal dan kurang ramah lingkungan.
Penyebab keempat kebocoran adalah kesalahan dan kecerobohan pemasangan. Pemasangan genteng yang tidak rapi mengikuti larikan pada reng membuat atap memiliki rongga yang mengundang datangnya air di musim hujan. Pemasangan asbes yang dikunci dengan paku tak berpayung jelas adalah sumber malapetaka. Memasang genteng wuwungan atau nok dengan semen yang seirit-iritnya pasti membuat sambungan ini memicu rembesan air ke bawah. Apalagi bila bagian ini tidak dilapisi dengan material waterproofing.
Pada musim hujan seperti sekarang, atap yang bocor hanya bisa diatasi secara darurat. Artinya, proteksi hanya bersifat mengatasi sementara supaya air tidak menetes lagi saat itu, tetapi itu bukan solusi permanen. Ada banyak material yang bisa digunakan untuk menanggulangi kebocoran rumah dan ada banyak cara untuk mencegahnya.
1. Masalah: Atap genteng rumah saya terlampau landai kemiringannya sehingga kalau hujan deras air masuk.
Solusi: Gunakan pelindung berupa alumunium foil, plastik tebal, atau karpet yang dipasang persis di bawah genteng di atas reng. Solusi ini tetap bersifat sementara karena rembesan air tetap akan masuk secara pelan-pelan dan berpotensi merusak reng kayu dan plafon. Dalam jangka panjang, pertimbangkan mengubah sudut kemiringan atap atau mengganti material atap dengan yang berbentuk lembaran.
2. Masalah: Genteng rumah saya ada yang retak, tapi tidak mudah mencari genteng dengan tipe yang sama di toko material.
Solusi: Gunakan material waterproofing plus serat kassa. Potong serat kassa pada bidang genteng sesuai ukuran, lalu olesi dengan larutan waterproof.
3. Masalah: Dak beton di rumah saya terbuka sehingga kalau hujan air merembes ke bawah. Saya sudah melapisinya dengan bahan waterproof tapi tetap saja rembes.
Solusi: Sekarang ini ada banyak material yang spesifik. Pelapis genteng berbeda dengan pelapis dak beton. Coba gunakan material yang benar-benar cocok. Perlu diketahui, pada ruang terbuka, pelapisan waterproofing harus dilakukan secara berkala.
4. Masalah: Nok atap rumah saya retak-retak dan air merembes dari sini. Sudah dilapisi dengan waterproof tetap saja muncul masalah setiap kali hujan.
Solusi: Bisa jadi komposisi semen untuk memasang nok atau wuwungan kurang baik. Coba lapisi lagi dengan semen cair atau diaci ulang dengan semen yang dicampur sedikit kapur untuk menghindari retak berulang. Kalau ada retak yang terlalu besar, korek retaknya dan tambal dengan semen. Setelah itu, lapisi dengan material waterproof.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar